Share |

Selasa, 16 Februari 2010

Kopi Hitam

Entah sejak kapan, yang pasti sesudah saya (maaf ga pake kata “gue”, Sekali lagi saya kelu ngucapin “gue”, meski saat ini, dengan kata gue lebih mudah merangkai tulisan) lahir, kopi hitam menjadi bagian dalam hidup sehari-hari. Tapi kalau diingat lagi kelas 6 SD sudah mengkonsumsinya, menjadi minuman penutup sarapan pagi dengan telor mata sapi buatan almarhum nenek tercinta. My GrandMother (biar mudah belajar English, ;) ) yang mengasuhku hingga beranjak remaja dikampung halaman.

Terlalu banyak, kalau harus menguraikan satu demi satu cerita selama di kampung, di waktu lain saja deh, sekarang saatnya membahas sejarah (berat dikit) kopi hitam yang menjadi minuman favoritku nomor 1. Sekalipun diberi jus apel dua drum, tetep secangkir kopi yang akan saya pilih, (lagian ngapain minum jus apel se drum).

Dengan tulisan inilah saya ingin mencoba menguraikannya, pada awalnya ngapain mencari litelatur kapan menyukai kopi hitam?, namun kesadaranku akan itu terus mengganggu, masih muda kok suka kopi hitam?, kalau sudah berfikir seperti itu suka teringat dengan sosok artis tua, Mbah Surip. Saat kematiannya menjemput, banyak media mengutarakan kesehariannya yang demen banget sama kopi hitam. Pemberitaan ini sedikitnya menjadi pertanyaan bagi para pecinta Kopi Hitam seperti saya, apa benar Mbah Surip meninggal karena kebiasaanya minum kopi?, meski dia pun doyan rokok kretek. Namun meski demikian, saya masih cinta akan Kopi Hitam hingga sekarang.

Tidak pernah terlewat barang satu hari pun, dibuat kepala ini senut-senut ga karuan kalau lupa meminumnya. Dengan secangkir kopi panas dipagi hari, saya bisa menahan lapar hingga jam istirahat tiba, dan tentunya saat sarapan Kopi Hitam ditemani pula gorengan panas yang baru diangkat dari wajan.

Kopi Hitam ini pula yang menjadi isi kolom kalau harus nulis motto hidup dalam beberapa situs, macam blog, yahoo group, dan beberapa situs web yang pernah mendaftar didalamnya termasuk Face book. Ada banyak pilihan kalimat yang dipakai, pecinta kopi sejati, kopi maniak, lebih dari sekedar kopi hitam, dll, tentunya dengan menulis motto hidup seperti ini, sadar tidak sadar merasuki ruang karakter diri, dan semakin sulit kalau harus putus cinta dengan yang namanya kopi hitam.

Kalau ngaku demen Kopi Hitam, sudah berapa jenis kopi yang telah dinikmati?, nah ini pertanyaan bagus. Seiring dengan internet yang menjadi bagian dalam keseharian, pernah juga mencoba searching kopi Hitam, satu demi satu situs yang membahas kopi hitam saya baca, ku temukan yang membuat saya penasaran ingin mencobanya. Kopi Luwak, inilah dia minuman yang pernah saya beli lewat internet, sekaligus menjadi sejarah karena untuk yang pertama kalinya saya belanja online, pakai kartu kredit dong? Ga punya euy, transfer aja deh, sepekan kemudian pesanannya datang. Yaaaaaah harganya lumayan, satu toples kecil kopi bubuk ukuran seperempat liter cukup buat beli baju anakku tiga stel. Hmmmm rasa kopinya sebanding lah dengan harganya, meski sedikit nyesel ngapain keluar duit banyak untuk hal seperti itu.

Ada lagi yang lain, terdorong rasa penasaran karena selalu menjadi brand yang menjadi gaya hidup. Untuk yang kali pertama, korban penasaran, bersama istri tercinta, dengan agak canggung maklum keseringan makan di warung nasi rames dan jarang sekali menikmati hidangan café, masuklah ke kedai kopi yang merknya bernuansa hijau hitam, tau lah apa itu. Pesan 2 cangkir, kopi hitam dan kopi latte, kalau yang kedua pesenan istri yang jarang ngopi ngakunya, tapi sejak saya nikah kok toplesnya cepet habis yah, biasanya cukup untuk satu bulan, sekarang tengah bulan sudah minta refill. Apa mungkin istriku ketularan, dia kan punya Mag, ah biarin aja deh kalau sama-sama cinta mah.

Kembali ke kedai, sesampainya di kasir, busyet, dompet di saku belakang rasanya susah untuk dikeluarin, duh bisa bisa buat nutupin kebutuhan hidup hingga bulan berikutnya harus nyongkel celengan buat DP KPR. Dengan berat hati, baki dengan 2 cangkir kopi mahal bagi ukuran seperti saya saat ini, ingat "saat ini". diangkatnya dengan hati-hati takut tumpah walau hanya satu tetes. Ku nikmati seteguk demi seteguk tidak terasa waktu nongkrong di kedai cukup menyita waktu.

Hmmmm, rasanya ga jauh beda dengan buatan kopi si emang di warung pojok sana, cuma ini mah sedikit wangi dan lembut. Sebelum meninggalkan meja, saya berbisik dekat telinga istri, “untuk saat ini jangan minum kopi disini, kecuali ada yang mau traktir, kalau mau traktir ntar tahun 2015 baru boleh bawa teman reunian disini”. Amiiin.

Tidak Cuma disitu saja, Kopi Hitam menjadi salah satu buah tangan untuk temanku yang akan meninggalkan kota ini. Kalau yang lain mungkin brownis atau bolen pisang, yah sesekali ngasih beda boleh dong. Biasanya kalau Kopi Hitam untuk buah tangan saya beli disalah satu toko kopi dipusat kota. Toko ini sejak zaman kolonial sudah menjualnya, menurut beberapa catatan yang saya baca ditempat ini kopi yang baru dipetik tidak langsung diolah menjadi kopi bubuk, tapi di erami dulu selama 5-15 tahun bahkan bisa lebih dari itu.

Kopi hitam yang dijual disini hanya ada dua jenis, saat pertama kali berkunjung dan belum paham dengan gaya menjual. Si Engko, pemilik generasi ketiga kalau ga salah, bertanya sama saya yang masih celingukan mengamati mesin penggiling kopi dalam kurungan kaca yang disimpan dibagian depan toko, “sudah nikah belum?”, sambutan pembukanya. Sesaat saya berfikir, ngapain dia nanya-nanya kayak gitu. “belum ko”, jawabku yang memang bener masih pejaka ting-ting waktu itu, suer deh.
Tidak lama kemudian, si Engko menyodorkan bungkusan warna putih dengan tulisan kopi Robustha, “yang ini aja kalau belum nikah”, jelasnya sambil menerangkan manfaat kopi. “Robustha itu tidak terlalu pahit, cocok buat anak muda, nah kalau yang satunya lagi Arabika, ini bagus buat yang sudah nikah”, dengan sedikit bercanda menyodorkan bungkusan kopi dengan tulisan Arabika. Terang saja makin penasaran, “bener nih Ko?, saya boleh beli ga?”. Ha,,,ha,,,, pingin ketawa rasanya kalau sudah urusan yang kata gitu.

Sebenernya saya malu dengan cerita kopi yang dijadikan buah tangan, masih punya utang sama si Akang yang paling dituakan (punteun kang) saat jadi panitia reunia STM kemarin, belum kesampaian buat ngasihnya, lupa eung, punteunnya kang.
Ada satu keinginan yang belum kecapai di bidang per-kopi-an ini, punya mesin pembuat kopi, itu tuh buat bikin kopi exelco. Belum masuk anggaran eung, ga di ACC sama Istri, ntar itu mah mata anggaran tahun depan, sekarang masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting, tapi kalau ada yang ngasih, terima banget.

Kopi kopi, teman setia pendamping malam, larut dalam kehangatan hitam pekat, uh dirimu tidak pernah ngeluh, kecuali saat airnya tidak cukup panas, dirimu juga ikut-ikutan kurang baik memberi kenikmantan kepadaku. Saat menulis tulisan ini pun, seperti jembatan penyambung kata demi kata. Karena dirimu pula, setidaknya bisa mengurangi rasa itu dengan menulis seperti ini.

Okey, di akhir kata, terima kasih semangatnya sahabat di DKI, ini salah satu kesuksesan yang patut disyukuri, merampungkan tulisan yang kedua kalinya di catatan FB. Dengan merangkai kata macam gini, yah itu tadi menjadi bahan intropeksi, siapa sih loh?

Status

Komentar